" GIZI SEIMBANG PADA BAYI"
Nama : Besty
Marsaulina Simangunsong
Nim : 022019006
Prodi
: D3 Kebidanan
Tugas Resume : "GIZI SEIMBANG BAGI BAYI"
Gizi
adalah suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal oleh suatu
organisme melalui proses digesti, absorbsi, metabolisme, pengeluaran zat-zat
yang tidak digunakan, serta menghasilkan energi (Proverwati, A., & Wati,
E,K., 2011:1). Sedangkan gizi seimbang nutrisi dan zat gizi yang disesuaikan
dengan kebutuhan tubuh, tidak berlebihan, dan tidak kekurangan (samisshare.com,
2016).
Kebutuhan gizi bayi
berbeda dengan kebutuhan anak dan orang dewasa. Bayi memerlukan karbohidrat
dengan bantuan amilase untuk mencerna bahan makanan yang berasal dari zat pati.
Protein yang diperlukan berasal dari ASI ibu sedangkan lemak berasal dari susu
matur. Mineral yang diperlukan terdiri atas kalsium, pospor, klor, kalium dan
natrium untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan bayi. Untuk vitamin yang
dibutuhkan bervariasi sesuai dengan diet ibu. Gizi ibu yang kurang pada waktu
konsepsi atau sedang hamil muda dapat berpengaruh pada pertumbuhan anak semasa balita
(Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:51-52).
Secara garis besar,
kebutuhan gizi ditentukan oleh usia, jenis kelamin, aktivitas, berat badan, dan
tinggi badan. Antara asupan zat gizi dan pengeluarannya harus ada keseimbangan
sehingga diperoleh status gizi yang baik. Status gizi balita dapat dipantau
dengan menimbang anak setiap bulan dan dicocokkan dengan Kartu Menuju Sehat
(KMS). Agar kebutuhan gizi pada balita terpenuhi maka makanan yang dimakan anak
beraneka ragam dan harus mengandung zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur
(Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:64).
Setelah bayi berumur
6 bulan, maka untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya diperlukan makanan
pendamping air susu ibu (MP-ASI). Makanan pendamping ASI yang baik adalah
terbuat dari bahan makanan segar. Jenis-jenis MP-ASI yang dapat diberikan dapat
berupa makanan saring, makanan lunak, dan makanan padat. Masa balita adalah
periode perkembangan fisik dan mental yang pesat sehingga kebutuhan gizi yang
diperlukan berbeda dengan bayi maupun orang dewasa. Balita membutuhkan lebih
banyak lemak dan sedikit serat, untuk itu menu seimbang yang diperlukan
harus memperhatikan jumlah gula dan garam, porsi makan, kebutuhan energi dan
nutrisi, serta susu pertumbuhan Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:53).
Pengelolaan makanan
untuk bayi dan balita harus disesuaikan dengan umurnya. Ini dikarenakan dalam
masa perkembangan kemampuan sistem pencernaannya berbeda-beda. Pemberian
makanan balita sebaiknya beraneka ragam dan pembentukan pola makanan perlu
diterapkan sesuai pola makanan keluarga. Peranan orang tua sangat dibutuhkan
untuk membentuk perilaku makan yang sehat. Seorang ibu dalam hal ini harus
mengetahui dan mampu menerapkan makan yang seimbang atau sehat dalam keluarga
(klinikgizi.com, 2014)
Pertumbuhan merupakan
dasar untuk menilai kecukupan gizi bayi dan balita. Indikator pertumbuhan yang
sering digunakan adalah berat badan dan pertambahan berat, meskipun pertumbuhan
panjang juga digunakan. Faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak terdiri
atas sebab langsung dan tak langsung. Sebab langsung meliputi kecukupan pangan
dan keadaan kesehatan, sedangkan sebab tak langsung meliputi ketahanan pangan
keluarga, pola asuh anak, pemanfaatan pelayanan kesehatan, dan sanitasi
lingkungan (Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:69-76).
Perbedaan status gizi
baduta memiliki pengaruh yang berbeda pada setiap perkembangan anak, apabila
gizi seimbang yang dikomsumsi tidak terpenuhi, pencapaian pertumbuhan dan
perkembangan anak terutama perkembangan motorik yang baik akan terhambat
(Gunawan, G., Fadlyana, E., & Rusmil, K., 2011).
2.1 Pengertian Gizi dan Gizi
Seimbang
Gizi
adalah suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal oleh suatu
organisme melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme,
pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,
pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi
(Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:1). Gizi adalah zat-zat sebagai
komponen pembangun tubuh manusia dalam rangka mempertahankan dan memperbaiki
jaringan-jaringan agar fungsi tubuh manusia dapat berjalan sebagaimana
mestinya (caramedis.com, 2016). Secara klasik kata gizi dihubungkan dengan
kesehatan tubuh, yaitu untuk menyeimbangkan energi, membangun, dan memelihara
jaringan tubuh, serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh (Almatsier,
S., 2001:3)
Gizi
seimbang adalah nutrisi dan zat gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh,
tidak berlebihan, dan tidak kekurangan. Nutrisi dan gizi yang dibutuhkan harus
memperhatikan berbagai prinsip seperti keberagaman jenis makanan, aktivitas
tubuh, berat badan ideal, serta faktor usia. Susuanan gizi seimbang pada
makanan digambarkan Yayasan Institut Danone Indonesia pada sebuah piramida
makanan berbentuk kerucut dengan bagian utama yang disebut dengan Tri Guna
Makanan atau tiga jenis makanan dengan tiga kegunaan yang berbeda. Urutan dari
bawah keatas adalah zat tenaga, zat pengatur, dan zat pembangun
(samisshare.com, 2016)
2.2 Prinsip Gizi untuk Bayi
Kebutuhan
gizi bayi berbeda dengan kebutuhan anak dan orang dewasa. Bayi memerlukan
karbohidrat dengan bantuan amilase untuk mencerna bahan makanan yang berasal
dari zat pati. Protein yang diperlukan berasal dari ASI ibu dengan kadar 4-5%
dari total kadar kalori dalam ASI. Lemak yang diperlukan 58% dari kalori dalam
susu matur. Mineral yang diperlukan terdiri atas kalsium, pospor, klor, kalium
dan natrium untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan bayi. Untuk vitamin
yang dibutuhkan bervariasi sesuai dengan dietyang dilakukan oleh ibu
(Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:51-52). Setelah umur 6 bulan, setiap
bayi membutuhkan makanan lunak yang bergizi sering disebut Makanan Pendamping
ASI (MP-ASI). Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap
baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan pencernaan bayi/anak.
Dalam keadaan darurat, bayi dan balita seharusnya mendapat MP-ASI untuk
mencegah kekurangan gizi. Untuk memperolehnya perlu ditambahkan vitamin dan
mineral (variasi bahan makanan) karena tidak ada makanan yang cukup untuk
kebutuhan bayi.
Balita
usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi dua, yaitu anak usia lebih dari satu
tahun sampai tiga tahun yang dikenal dengan “batita” dan anak usia lebih dari
tiga tahun sampai lima tahun yang dikenal dengan usia “prasekolah”. Batita
sering disebut konsumen pasif, sedangkan usia prasekolah lebih dikenal sebagai
konsumen aktif. Anak dibawah lima tahun merupakan kelompok yang menunjukkan
perkembangan yang pesat namun tersering menderita kekurangan gizi. Gizi ibu
yang kurang pada waktu konsepsi atau sedang hamil dapat berpengaruh pada
pertumbuhan semasa balita. Bila gizi buruk maka perkembangan otaknya kurang dan
akan berpengaruh pada kehidupan balita diusia prasekolah dan sekolah
(Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:62-63).
2.3 Macam Macam Makanan Bagi BAYI
Banyak ibu muda, khususnya yang baru pertama kali mengalami memiliki
buah hati, mengalami kerancuan dan kebingungan dalam memilih makanan bayi yang
paling tepat dan bagaimana cara yang benar pemberiannya. Tidak sedikit ibu muda
yang telah melakukan konsultasi malah semakin bingung, karena jawaban dari
masing-masing pihak berbeda.
Makanan, selain menjadi sumber bahan bakar energi pada tubuh manusia, seperti kita ketahui, makanan juga sebagai faktor penunjang untuk tumbuh kembang tubuh anak, pada khususnya bayi. Dimana siklus pertumbuhan bayi sangatlah pesat.
Dari paska lahir, berat bayi yang mencapai rata-rata 3 kg, dalam kurun waktu satu tahun pertumbuhannya bisa mencapai sekitar 9 kg. Oleh karena itu, sangatlah penting pemberian makanan pada bayi harus memenuhi syarat kebutuhan gizi.
Pada prinsipnya, bayi memerlukan pemberian makanan secara bertahap. Dari tahap awal yang dimulai dari yang cair, lalu setengah padat, kemudian padat dan dilanjutkan makanan biasa berupa nasi dan lauk pauk. Tidak ketinggalan asupan air, vitamin, serta mineral untuk bayi haruslah cukup,
Walau demikian, kondisi bayi menentukan kesiapan menerima asupan makanan. Karena pada prakteknya pemberian makanan bersifat individual. Belum tentu semua bayi usia 4 bulan siap diberi bubur susu.
Kondisi fisik bayi juga menentukan kesiapan menerima jenis asupan makanan. Kondisi fisik bayi meliputi berat dan tinggi badannya. Dimana dalam hal ini dokter anak-lah yang memiliki kompetensi khusus yang menilai.
Oleh karena itu, penting sekali anak dipantau tumbuh kembangnya tiap bulan dari aspek keseluruhan. Dari tinggi badan bayi, berat badan bayi, jadwal pemberian imunisasi dan metode asupan pola makannya.
Sesuaikan perkembangan fisik bayi dengan pola makannya, selama masih dalam pemantauan orangtua dan dokter anak, bayi akan mencapai proses tumbuh kembang secara optimal. Beberapa hal yang penting untuk diingat, seberapa banyak dan seberapa sering bayi makan, semuanya tergantung pada usia, tingkat pertumbuhan, berat badan, dan metabolisme. Dan semua itu tak sama antara satu bayi dengan bayi lainnya.
ASI
Bagaimanapun yang terpenting, air susu ibu (ASI) adalah asupan terpenting pada bayi. ASI, selain mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembang bayi, ASI juga mengandung macam-macam substansi anti-infeksi yang mampu melindungi bayi terhadap berbagai infeksi.
Pada masa usia bayi melewati 4 bulan, bayi memerlukan makanan tambahan seperti bubur susu, biskuit dan buah-buahan. Kemudian bubur saring (nasi tim yang dihaluskan) mulai usia 6 bulan dan di usia 9 bulan sudah bisa diberikan nasi tim.
Susu Formula
Jika Anda mengkombinasikan ASI dengan susu formula, sebaiknya pilih susu formula yang komposisinya paling mirip ASI. Mintalah petunjuk dokter. Begitu pun cara meramu formula dan berapa banyak formula yang akan diberikan pada bayi Anda.
Makanan, selain menjadi sumber bahan bakar energi pada tubuh manusia, seperti kita ketahui, makanan juga sebagai faktor penunjang untuk tumbuh kembang tubuh anak, pada khususnya bayi. Dimana siklus pertumbuhan bayi sangatlah pesat.
Dari paska lahir, berat bayi yang mencapai rata-rata 3 kg, dalam kurun waktu satu tahun pertumbuhannya bisa mencapai sekitar 9 kg. Oleh karena itu, sangatlah penting pemberian makanan pada bayi harus memenuhi syarat kebutuhan gizi.
Pada prinsipnya, bayi memerlukan pemberian makanan secara bertahap. Dari tahap awal yang dimulai dari yang cair, lalu setengah padat, kemudian padat dan dilanjutkan makanan biasa berupa nasi dan lauk pauk. Tidak ketinggalan asupan air, vitamin, serta mineral untuk bayi haruslah cukup,
Walau demikian, kondisi bayi menentukan kesiapan menerima asupan makanan. Karena pada prakteknya pemberian makanan bersifat individual. Belum tentu semua bayi usia 4 bulan siap diberi bubur susu.
Kondisi fisik bayi juga menentukan kesiapan menerima jenis asupan makanan. Kondisi fisik bayi meliputi berat dan tinggi badannya. Dimana dalam hal ini dokter anak-lah yang memiliki kompetensi khusus yang menilai.
Oleh karena itu, penting sekali anak dipantau tumbuh kembangnya tiap bulan dari aspek keseluruhan. Dari tinggi badan bayi, berat badan bayi, jadwal pemberian imunisasi dan metode asupan pola makannya.
Sesuaikan perkembangan fisik bayi dengan pola makannya, selama masih dalam pemantauan orangtua dan dokter anak, bayi akan mencapai proses tumbuh kembang secara optimal. Beberapa hal yang penting untuk diingat, seberapa banyak dan seberapa sering bayi makan, semuanya tergantung pada usia, tingkat pertumbuhan, berat badan, dan metabolisme. Dan semua itu tak sama antara satu bayi dengan bayi lainnya.
ASI
Bagaimanapun yang terpenting, air susu ibu (ASI) adalah asupan terpenting pada bayi. ASI, selain mengandung semua zat gizi yang diperlukan untuk tumbuh kembang bayi, ASI juga mengandung macam-macam substansi anti-infeksi yang mampu melindungi bayi terhadap berbagai infeksi.
Pada masa usia bayi melewati 4 bulan, bayi memerlukan makanan tambahan seperti bubur susu, biskuit dan buah-buahan. Kemudian bubur saring (nasi tim yang dihaluskan) mulai usia 6 bulan dan di usia 9 bulan sudah bisa diberikan nasi tim.
Susu Formula
Jika Anda mengkombinasikan ASI dengan susu formula, sebaiknya pilih susu formula yang komposisinya paling mirip ASI. Mintalah petunjuk dokter. Begitu pun cara meramu formula dan berapa banyak formula yang akan diberikan pada bayi Anda.
Ada berbagai keadaan yang bisa membuat menyusui tidak praktis atau tidak
dianjurkan. Ibu-ibu yang tidak bisa menyusui tidak boleh merasa tidak cakap
atau bersalah. Sebaiknya susu formula diberikan setelah berkonsultasi dengan
dokter dan para profesional ASI.
Buah-buahan
Selain menjadi sumber vitamin dan mineral, buah-buahan juga menjadi sumber serat yang bagus. Menginjak usia 6-8 bulan, bayi bisa diberikan buah-buahan seperti jeruk, pepaya, pisang, dan tomat. Buah bisa diberikan dalam bentuk jus.
Selain menjadi sumber vitamin dan mineral, buah-buahan juga menjadi sumber serat yang bagus. Menginjak usia 6-8 bulan, bayi bisa diberikan buah-buahan seperti jeruk, pepaya, pisang, dan tomat. Buah bisa diberikan dalam bentuk jus.
Khusus tomat, rebuslah lebih dulu setelah dicuci bersih, lalu disaring
untuk diambil airnya. Atau, si buah hati bisa diperkenalkan ‘finger foods’,
yaitu snack yang dapat dimakan oleh bayi sendiri (tidak perlu disuapi), seperti
buah yang dipotong-potong ukuran kecil sehingga bayi dapat makan sendiri.
Makanan halus ini diberikan 2-3x/hari.
Buah-buahan lainnya seperti melon, alpukat, semangka, pir, dan lainnya dapat diberikan mulai usia 6 bulan. Namun hindari buah-buahan yang bergetah. Karena dapat menimbulkan diare seperti sawo, nenas, durian, mangga dan lainnya.
Pada tahap awal, berikanlah kira-kira 30-50 ml air buah sebagai pengenalan pada kondisi pencernaan bayi, pantau reaksi yang timbul. Jika setelah minum air jeruk, timbuil diare, gantilah dengan buah lain pada pemberian berikutnya yang lebih cocok. Namun satu hal terpenting, cuci bersih setiap buah sebelum diberikan pada bayi.
Makanan Padat
Menginjak usia 4-5 bulan bayi sudah bisa diberikan makanan pada. Makanan padat pertama yang diperkenalkan hendaknya masih dalam bentuk lunak agar mudah dicerna bayi, bisa berupa dalam bentuk bubur susu.
Bubur susu biasanya terbuat dari bahan tepung serelia seperti beras, maizena, terigu atau havermout, ditambah susu dan gula. Pembuatan bubur susu bisa dilakukan dengan dibuat sendiri atau membeli bubur susu instan. Namun penting diingat, jika membeli bubur instant, jangan pernah lupa untuk memeriksa tanggal kadaluarsanya.
Memasuki usia 6 bulan bayi dapat diperkenalkan pada makanan padat berikutnya, seperti halnya nasi tim. Nasi tim biasanya terdiri dari bubur beras ditambah lauk berprotein hewani maupun nabati ditambah sayuran seperti wortel dan bayam.
Buah-buahan lainnya seperti melon, alpukat, semangka, pir, dan lainnya dapat diberikan mulai usia 6 bulan. Namun hindari buah-buahan yang bergetah. Karena dapat menimbulkan diare seperti sawo, nenas, durian, mangga dan lainnya.
Pada tahap awal, berikanlah kira-kira 30-50 ml air buah sebagai pengenalan pada kondisi pencernaan bayi, pantau reaksi yang timbul. Jika setelah minum air jeruk, timbuil diare, gantilah dengan buah lain pada pemberian berikutnya yang lebih cocok. Namun satu hal terpenting, cuci bersih setiap buah sebelum diberikan pada bayi.
Makanan Padat
Menginjak usia 4-5 bulan bayi sudah bisa diberikan makanan pada. Makanan padat pertama yang diperkenalkan hendaknya masih dalam bentuk lunak agar mudah dicerna bayi, bisa berupa dalam bentuk bubur susu.
Bubur susu biasanya terbuat dari bahan tepung serelia seperti beras, maizena, terigu atau havermout, ditambah susu dan gula. Pembuatan bubur susu bisa dilakukan dengan dibuat sendiri atau membeli bubur susu instan. Namun penting diingat, jika membeli bubur instant, jangan pernah lupa untuk memeriksa tanggal kadaluarsanya.
Memasuki usia 6 bulan bayi dapat diperkenalkan pada makanan padat berikutnya, seperti halnya nasi tim. Nasi tim biasanya terdiri dari bubur beras ditambah lauk berprotein hewani maupun nabati ditambah sayuran seperti wortel dan bayam.
Ada baiknya nasi tim haruslah melalui proses penghalusan terlebih dahulu,
bisa dilakukan dengan alat blender sebelum diberikan pada bayi. Setelah bayi
menginjak usia diatas 10 bulan, nasi tim tidak perlu dihaluskan lagi.
Makanan Selingan
Makanan selingan bagi bayi biasanya hadir berupa dalam bentuk biskuit yang memang dibuat khusus untuk bayi. Perkenalan makanan selingan bisa diberikan disaat bayi menginjak usia 4 bulan.
Biskuit bisa dicampur air matang ataupun susu. Namun jika bayi sudah dapat duduk, berikanlah biskuit dalam bentuk kepingan. Hal ini lebih baik karena dapat melatih melatih keterampilan jari-jemari tangannya (motorik halus) serta merangsang pertumbuhan gigi pada bayi.
Setelah usia 6 bulan, bayi sudah bisa diberikan makanan lain seperti roti, agar-agar, puding, bubur kacang hijau, dan lainnya.
Untuk masalah jadwal pemberian makanan, pada umumnya diberikan tiap 3 jam sekali. Namun dalam suatu kasus, terdapat juga bayi yang sudah lapar dalam interval 2 jam. Hal tersebut normal, karena setiap bayi memiliki keunikan tersendiri.
Namun pada umumnya lambung tubuh manusia termasuk bayi akan mengalami pengosongan dalam interval 3 jam. Oleh karena itu penting halnya jika terdapat kasus bayi yang mengalami tidur lebih dari 4 jam, bayi tersebut haruslah dibangunkan dan diberikan makanan.
Makanan Selingan
Makanan selingan bagi bayi biasanya hadir berupa dalam bentuk biskuit yang memang dibuat khusus untuk bayi. Perkenalan makanan selingan bisa diberikan disaat bayi menginjak usia 4 bulan.
Biskuit bisa dicampur air matang ataupun susu. Namun jika bayi sudah dapat duduk, berikanlah biskuit dalam bentuk kepingan. Hal ini lebih baik karena dapat melatih melatih keterampilan jari-jemari tangannya (motorik halus) serta merangsang pertumbuhan gigi pada bayi.
Setelah usia 6 bulan, bayi sudah bisa diberikan makanan lain seperti roti, agar-agar, puding, bubur kacang hijau, dan lainnya.
Untuk masalah jadwal pemberian makanan, pada umumnya diberikan tiap 3 jam sekali. Namun dalam suatu kasus, terdapat juga bayi yang sudah lapar dalam interval 2 jam. Hal tersebut normal, karena setiap bayi memiliki keunikan tersendiri.
Namun pada umumnya lambung tubuh manusia termasuk bayi akan mengalami pengosongan dalam interval 3 jam. Oleh karena itu penting halnya jika terdapat kasus bayi yang mengalami tidur lebih dari 4 jam, bayi tersebut haruslah dibangunkan dan diberikan makanan.
2.5 Cara Pengelolaan
Makanan untuk Bayi
Pengelolaan
makanan untuk bayi dan balita harus disesuaikan dengan umurnya. Pemberian
makanan balita sebaiknya beraneka ragam dan pembentukan pola makanan perlu
diterapkan sesuai pola makanan keluarga. Untuk bayi umur 6-9 bulan perlu
dikenalkan dengan MP-ASI lumat 2 kali sehari dan menambahkan sedikit demi
sedikit lemak seperti santan atau minyak kelapa untuk mempertinggi nilai gizi
makanan. Untuk bayi umur 9-12 bulan mulai diberikan makanan selingan 1 kali
sehari seperti pisang atau bubur kacang hijau. Bayi berumur 12-24 bulan mulai
diberikan variasi makanan dan melatih menyapih dengan bertahap.
Untuk balita, hal-hal
yang perlu diperhatikan adalah
1)
Karbohidrat
Anak dibiasakan untuk
mengonsumsi beragam sumber karbohidarat, seperti nasi, beras merah, kentang,
ubi, singkong, mie, bihun maupun jagung.
2)
Protein
Bisa didapat dari
daging-dagingan, ikan-ikanan, hati, udang, kerang, tempe dan tahu. Pilih sumber
protein yang mudah, murah, enak maupun berkualitas tinggi seperti telur.
3)
Lemak
Anak-anak membutuhkan
lebih banyak lemak dibandingkan orang dewasa karena tubuh mereka menggunakan
energi yang lebih secara proposional selama masa pertumbuhan dan perkembangan
mereka. Sumber lemak dalam dalam makanan bisa di dapat dalam : mentega, susu,
daging, ikan, minyak nabati.
4)
Vitamin Dan Mineral
Banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan. Semakin
hijau waran sayuran, makin banyak vitaminnya. Semakin kuning, merah, atau biru
warna daging buah, vitaminnya semakin kaya. (klinikgizi.com, 2014)
2.6 Faktor yang
Memengaruhi Pemberian Makanan, Pertumbuhan, dan Perkembangan untuk Bayi
Faktor yang
memengaruhi pemberian makanan pada bayi dan balita:
a)
Kerjasama ibu dan bayi.
Dimulai pada saat
kelahiran bayi dilanjutkan sampai dengan anak mampu makan sendiri. Makanan
hendaknya menyenangkan bagi anak dan ibu. Ibu yang tegang, cemas, mudah marah
merupakan suatu kecenderungan untuk menimbulkan kesulitan makan pada anak.
b)
Memulai pemberian makan sedini mungkin.
Pemberian makan
sedini mungkin mempunyai tujuan menunjang proses metabolisme yang normal, untuk
pertumbuhan, menciptakan hubungan lekat ibu dan anak, mengurangi resiko
terjadinya hipoglikemia, hiperkalemi, hiperbilirubinemia dan azotemia.
c)
Mengatur sendiri.
Pada awal
kehidupannya, seharusnya bayi sendiri yang mengatur keperluan akan makanan.
Keuntungannya untuk mengatur dirinya sendiri akan kebutuhan zat gizi yang
diperlukan.
d)
Peran ayah dan anggota keluarga lain.
e)
Menentukan jadwal pemberian makanan bayi
f)
Umur
g)
Berat badan.
h)
Diagnosis dari penyakit dan stadium (keadaan).
i)
Keadaan mulut sebagai alat penerima makanan.
j)
Kebiasaan makan (kesukaan, ketidaksukaan dan acceptability dari jenis makanan
dan toleransi daripada anak terhadap makanan yang diberikan) (infogizi.com,
2016)
Faktor yang
memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada bayi dan balita:
Indikator
pertumbuhan yang sering digunakan adalah berat badan dan pertambahan berat,
meskipun pertumbuhan panjang juga digunakan. Faktor yang memengaruhi tumbuh
kembang anak terdiri atas sebab langsung dan tak langsung. Sebab langsung
meliputi kecukupan pangan dan keadaan kesehatan, sedangkan sebab tak langsung
meliputi ketahanan pangan keluarga, pola asuh anak, pemanfaatan pelayanan
kesehatan, dan sanitasi lingkungan. Sepuluh faktor memengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan bayi dan balita:
a.
Genetik
b.
Saraf
c.
Hormon
d.
Gizi
e.
Kecenderungan sekuler
f.
Status sosial ekonomi
g.
Cuaca dan iklim
h.
Tingkat aktivitas
i.
Penyakit
j.
Cacat lahir (Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:69-76).
2.7 Pengaruh Status Gizi Terhadap Perkembangan dan
Pertumbuhan Bayi
Status gizi pada masa
balita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari orang tua, karena kekuragan
gizi pada masa ini akan menyebabkan kerusakan yang irreversibel (tidak dapat
dipulihkan) (Proverwati, A., & Wati, E,K., 2011:76). Keadaan kurang gizi
juga berasosiasi dengan keterlambatan perkembangan motorik. Tidak hanya
kekurangan gizi, kelebihan gizi pun akan mengakibatkan obesitas dan
terganggunya proses pertumbuhan dan perkembangan
(catursaptaningwilujeng.lecture.ub.ac.id, 2016). Status gizi dan bayi dapat
diketahui dengan cara mencocokkan umur bayi dengan berat badan standar dengan
mengguakan pedoman WHO-NCHS. Sedangkan parameter yang cocok digunakan untuk
balita adalah berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala (Proverwati, A.,
& Wati, E,K., 2011:77).
Zat-zat gizi yang
dikonsumi bayi akan berpengaruh pada status gizi balita tersebut. Perbedaan
status gizi baduta memiliki pengaruh yang berbeda pada setiap perkembangan bayi,
apabila gizi seimbang yang dikomsumsi tidak terpenuhi, pencapaian pertumbuhan dan
perkembangan bayi terutama perkembangan motorik yang baik akan terhambat
(Gunawan, G., Fadlyana, E., & Rusmil, K., 2011).
Berdasarkan
pembahasan, berikut kesimpulan yang dapat diambil.
1.
Gizi adalah suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal oleh
suatu organisme sedangkan gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari
dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
2.
Pemberian makanan pada bayi dan balita harus disesuaikan oleh umurnya. Bayi dan
balita memerlukan beraneka ragam variasi makanan terutama mencakup pemberian
karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin.
3.
Agar kebutuhan gizi pada balita terpenuhi maka makanan yang dimakan anak
beraneka ragam dan harus mengandung zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.
4.
Makanan yang baik bagi bayi adalah ASI, namun setelah 6 bulan dapat diberikan
MP-ASI. Bagi balita menu seimbang yang dapat diperoleh dari karbohidrat,
protein, sayur dan buah, serta susu dan olahannya.
5.
Pengelolaan makanan untuk bayi dan balita harus disesuaikan dengan umurnya.
6.
Indikator pertumbuhan yang sering digunakan adalah berat badan dan pertambahan
berat. Banyak faktor yang memengaruhinya yaitu sebab langsung dan tidak
langsung.
7.
Perbedaan status gizi baduta memiliki pengaruh yang berbeda pada setiap
perkembangan anak, apabila gizi seimbang yang dikomsumsi tidak terpenuhi,
pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak terutama perkembangan motorik yang
baik akan terhambat.
SEKIAN DAN TRIMAKASIH

Komentar
Posting Komentar