Teori-Teori yang Mendasari Pengambilan Keputusan Dalam Menghadapi Dilema Etik Dan Moral DalamPelayanan Kebidanan.
Definisi
Dalam Pengambilan Keputusan
Keputusan
adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal itu berkaitan
dengan jawaban atas pertanyaan –pertanyaan mengenai “apa yang harus dilakukan “
dan seterusnya mengenai unsur-unsur perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa keputusan
itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan satu
diantara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang
dihadapinya.
Keputusan
itu sendiri merupakan unsur kegiatan yang sangat vital. Jiwa kepemimpinan
seseorang itu dapat diketahui dari kemampuan mengatasi masalah dan mengambil
keputusan yang tepat keputusan yang tepat adalah keputusan yang berbobot dan
dapat diterima bawahan. Ini biasanya merupakan keseimbangan antara disiplin
yang harus diditegakkan dan sikap manusiawi terhadap bawahan.
Keputusan yang demikian ini juga dinamakan keputusan yang mendasarkan diri pada
human relations.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pengambilan keputusan adalah
proses pembuatan keputusan dalam organisasi dapat didefenisikan sebagai proses
mengidentifikasi serta menyeselesaikan masalah. Proses ini terdiri dari dua
tahapn yaitu :
1. Tahap
identifikasi masalah
Pada tahap ini informasi mengenai kondisi lingkungan
serta organisasi di monitor untuk menentukan apakah kinerja organisasi
memuaskan atau tidak, pada tahap ini dilakukan juga dlakukan diagnosa penyebab
terjadinya kekurangan pada organisasi, jika terjadi kemunduran kinerja.
2. Tahap
penyelesaian
Adalah tahap diman terjadi pertimbangan terhadap
setiap alternatif keputusan, pada tahap ini satu alternatif keputusan, pada
tahap ini satu alternatif akan dipilih sebagai alternatif yang akan
dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah yang dialami organisasi.
Proses
pengambilan keputusan merupakan bagian dasar dan integral dalam praktik suatu
profesi dan keberadaannya sangat penting karena akan menentukan tindakan
selanjutnya.
Menurut George R. Terry, pengambilan keputusan
adalah memilih alternatif yang ada. Ada 5 (lima) hal pokok dalam pengambilan
keputusan:
1. Intuisi
berdasarkan perasaan, lebih subyektif dan mudah terpengaruh.
2. Pengalaman
mewarnai pengetahuan praktis, seringnya terpapar suatu kasus meningkatkan
kemampuan mengambil keputusan terhadap suatu kasus
3. Fakta,
keputusan lebih riil,valid dan baik.
4. Wewenang lebih
bersifat rutinitas
5. Rasional,
keputusan bersifat obyektif, transparan, dan konsisten.
B. Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan sangat penting dalam manajemen
dan merupakan tugas utama dari seorang pemimpin (manajer). Pengambilan
keputusan (decision making) diproses oleh pengambilan keputusan (decision
maker) yang hasilnya keputusan (decision).
Defenisi-defenisi Pengambilan Keputusan Menurut Beberapa Ahli :
1. G. R. Terry
Pengambilan keputusan dapat didefenisikan sebagai
“pemilihan alternatif kelakuan tertentu dari dua atau lebih alternatif yang
ada”.
2. Harold
Koontz dan Cyril O’Donnel
Pengambilan keputusan adalah pemilihan diantara
alternatif-alternatif mengenai sesuatu cara bertindak—adalah inti dari
perencanaan. Suatu rencana dapat dikatakan tidak ada, jika tidak ada keputusan
suatu sumber yang dapat dipercaya, petunjuk atau reputasi yang telah dibuat.
3. Theo Haiman
Inti dari semua perencanaan adalah pengambilan
keputusan, suatu pemilihan cara bertindak. Dalam hubungan ini kita melihat
keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh manajer sebagai suatu
yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah.
4. Drs. H. Malayu
S.P Hasibuan
Pengambilan keputusan adalah suatu proses penentuan
keputusan yang terbaik dari
sejumlah alternative untuk melakukan
aktifitas-aktifitas pada masa yang akan datang.
5. Chester I.
Barnard
Keputusan adalah perilaku organisasi, berintisari
perilaku perorangan dan dalam gambaran proses keputusan ini secara relative dan
dapat dikatakan bahwa pengertian tingkah laku organisasi lebih penting dari
pada kepentingan perorangan.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan
bahwa pengambilan keputusan adalah proses pemilihan alternatif solusi untuk
masalah. Secara umum pengambilan keputusan adalah upaya untuk menyelesaikan
masalah dengan memilih alternatif solusi yang ada .
A. Teori
Pengambilan Keputusan
1.
Teori Rasional Komprehensif
Teori pengambilan keputusan yang paling dikenal dan
mungkin pula yang banyak diterima oleh kalangan luas ialah teori rasional
komprehensif. Unsur-unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan sebagai
berikut :
A. Pembuat
keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari
masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat
diperbandingkan satu sama lain.
B. Tujuan-tujuan,
nilai-nilai, atau sasaran yang mempedomani pembuat keputusan amat jelas dan
dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan kePentingannya
C. Berbagai
altenatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama.
D. Akibat-akibat
(biaya dan manfaat) yang ditmbulkan oleh setiap altenatif Yang diPilih
diteliti.
E. Setiap
alternatif dan masing-masing akibat yang menyertainya,
dapat diperbandingkan dengan alternatif-altenatif lainnya.
F. Pembuat
keputusan akan memilih alternatif’ dan akibat-akibatnya’ yang dapat memaksimasi
tercapainya tujuan, nilai atau Sasaran yang telah digariskan.
Teori rasional komprehensif banyak mendapatkan
kritik dan kritik yang paling tajam berasal dari seorang ahli Ekonomi dan
Matematika Charles Lindblom (1965 , 1964′ 1959)’ Lindblom secara tegas
menyatakan bahwa para pembuat keputusan itu sebenarya tidaklah berhadapan
dengan masalah-masalah yang konkrit dan terumuskan dengan jelas.
2.Teori
Inkremental
Teori inkremental dalam pengambilan keputusan
mencerminkan suatu teori pengambilan keputusan yang menghindari banyak masalah
yang harus dipertimbangkan (seperti daram teori rasional komprehensif) dan,
pada saat yang sama, merupakan teori yang lebih banyak menggambarkan cara yang
ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambil kepurusan sehari-hari.
Pokok-pokok
teori inkremental ini dapat diuraikan sebagai berikut:
A. Pemilihan tujuan atau
sasaran dan analisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapainya
dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait daripada sebagai sesuatu hal
yang saling terpisah.
B. Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan
beberapa altematif yang langsung berhubungan dengan pokok masalah dan
altematif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inkremental atau
marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.
C. Bagi tiap altematif hanya sejumlah kecil
akibat-akibat yang mendasar saja yang akan dievaluasi.
D. Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan
didedifinisikan secara terarur. Pandangan inkrementalisme memberikan kemungkin
untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan
tujuan sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.
E. Bahwa tidak ada keputusan atau cara
pemecahan yang tepat bagi tiap masalah. Batu uji bagi keputusan yang baik
terletak pada keyakinan bahwa berbagai analisis pada akhirnya akan sepakat pada
keputusan tertentu meskipun tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang
paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
Pembuatan keputusan yang inkremental pada
hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil dan hal ini lebih diarahkan untuk
memperbaiki ketidaksempunaan dari upaya-upaya konkrit dalam mengatasi
masalahsosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan
tujuan-tujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan datang.
3.Teori
Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory)
Penganjur teori ini adalah ahli sosiologi organisasi
Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap kritik-kritik para teoritisi
inkremental yang diarahkan pada teori rasional komprehensif, akan tetapi ia
juga menunjukkan adanya beberapa kelemahan yang terdapat pada teori
inkremental. Misalnya, keputusan-keputusan yang dibuat oleh pembuat keputusan
penganut model inkremental akan lebih mewakili atau mencerminkan
kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang kuat dan mapan serta
kelompok-kelompok yang mampu mengorganisasikan kepentingannya dalam masyarakat,
sementara itu kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang lemah dan
yang secara politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya praktis akan
terabaikan.
B. Kriteria
pengambilan Keputusan
Menurut konsepsi Anderson, nilai-nilai yang
kemungkinan menjadi pedoman perilaku para pembuat keputusan itu dapat
dikelompokkan menjadi 4 (empat) kategori, yaitu:
1. Nilai-nilai
Politik
Pembuat keputusan mungkin melakukan penilaian atas
altematif kebijaksanaan yang dipilihnya dari sudut pentingnya
altematif-altematil itu bagi partai politiknya atau bagi kelompok-kelompok
klien dari badan atau organisasi yang dipimpinnya.
2. Nilai-nilai
organisasi
Para pembuat kepurusan, khususnya birokrat (sipil
atau militer), mungkin dalam mengambil keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai
organisasi di mana ia terlibat di dalamnya’ Organisasi, semisal badan-badan
administrasi, menggunakan berbagai bentuk ganjaran dan sanksi dalam usahanya
untuk memaksa para anggotanya menerima, dan bertindak sejalan dengan
nilai-nilai yang telah digariskan oleh organisasi.
3. Nilai-nitai
Pribadi
Hasrat untuk melindungi atau memenuhi kesejateraan
atau kebutuhan fisik atau kebutuhan finansial’ reputasi diri, atau posisi
historis kemungkinan juga digunakan- oleh para pembuat teputusan sebagai
kriteria dalam pengambilan keputusan.
4. Nilai-nilai
Kebijaksanaan
Dari perbincangan di atas, satu hal hendaklah
dicamkan, yakni janganlah kita mempunyai anggapan yang sinis dan kemudian
menarik kesimpulan bahwa para pengambil keputusan politik inr semata-mata
hanyalah dipengaruhi oleh pertimbangan-penimbangan demi keuntungan politik,
organisasi atau pribadi.
5. Nilai-nilai
Ideologis
Ideologi pada hakikatnya merupakan serangkaian
nilai-nilai dan keyakinan yang secara logis saling berkaitan yang mencerminkan
gambaran sederhana mengenai dunia serta berfungsi sebagai pedoman benindak bagi
masyarakat yang meyakininya.
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI KETERLIBATAN BIDAN DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Pelayanan “one
to one”: bidan dan client yang bersifat sangat pribadi dan bidan bisa memenuhi
kebutuhan .
2. Untuk
meningkatkan sensitivitas terhadap client maka bidan berusaha keras
untuk memenuhi kebutuhan
Perawatan berfokus pada ibu ( woman centered care )
dan asuhan total ( total care). Terdapat 3 keterlambatan yang
menyebabkan tingginya angka kematian ibu dan bayi di indonesi yaitu
:
1. Terlambat mengenali
tanda-tanda bahaya kehamilan sehingga terlambat untuk memulai pertolongan a
2. Terlambat tiba
di fasilitas pelayanan kesehatan.
3. Terlambat
mendapat pelayanan setelah tiba ditempat pelayanan
TINGKATAN
KERJA PERTIMBANGAN MORAL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KETIKA MENGHADAPI DELIMA
ETIK
1. Tingkatan
1 keputusan dan tindakan : bidan merefleksikan pada pengalaman atau
pengalaman rekan kerja
2. Tingakatan
2 peraturan : berdasarkan kaidah kejujuran ( berkata benar ),
privasi , kerahasiaan dan kesetiaan ( menepati janji). Bidan sanmgat familiar,
tidak meninggalkan kode etik dan panduan praktik profesi.
3. Tingkatan 3 ada
4 prinsip yang di gunakan dalam perawatan praktik kebidanan:
a. Anatonomy,memperhatikan
penguasaan diri ,hak kebebasan dan pilihan individu.
b. Beneticence,
memperhatikan peningkatan kesejahtraan klien,selain itu berbuat terbaik untuk
orang lain .
c. Non
Malaticence, tidak melakukan tindakan yang menimbulkan penderitaan ataupun
kerugian pada orang lain .
d. 44Yustice
,memperhatikan keadilan, pemerataan beban dan keuntungan .
4. Tingkatan 4 Teori
pengambilan keputusan yaitu teori utilitarisme ,teori deontology,teori hedonisme,teori
eudemonisme.
BENTUK-BENTUK
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Strategi :
dipengaruhi oleh kebijakan organisasi ataupun pimpinan rencana dan masa depan ,
rencana bisnis dan lain-lain.
2. Cara kerja :
yang di pengaruhi pelayanan kebidanan di dunia klinik ,dan komunitas .
3. Individu
dan profesi : dilakukan oleh bidan yang di pengaruhi oleh standar praktik
kebuidanan .
PENDEKATAN TRADISIONAL DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Mengenal
dan mengidentifikasikan masalah.
2. Menegaskan
masalah dengan menunjukan hubungan antara masa lalu dan sekarang.
3. Memperjelas
hasil prioritas yang ingin di capai .
4. Mempertimbangkan
pilihan yang ada
5. Mengevaluasi
pilihan tersebut
6. Memilih
solusi dan menetapkan atau melaksanakannya
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Faktor fisik,
didasarkan pada rasa yang dialami oleh tubuh seperti rasa sakit, tidak nyaman
dan kenikmatan
2. Emosional,
didasarkan pada perasaan dan sikap
3. Rasional,
didasarkan pada pengetahuan
4. Praktik,
didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakannya
5. Interpersonal,
didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada
6. Struktural, di
dasarkan pada lingkup sosial , ekonomi dan politik.
DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Ketidak
sanggupan(bersifat segera)
2. Keterpaksaan
karena suatu krisis, yang menuntut suatu untuk segera dilakukan
KERANGKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ASUHAN
KEBIDANAN MEMPERHATIKAN HAL-HAL SEBAGAI BERIKUT:
1. Bidan harus
mempunyai responsibility dan accountability
2. Bidan harus
menghargai sebagai individu dan melayani dengan rasa hormat
3. Pusat
perhatian pelayanan bidan adalah safety and wellbein mother.
4. Bidan
berusaha menyokong pemahaman ibu tentang kesejahteraan dan menyatakan
pilihannya dalam pengalaman situasi yang aman .
SUMBER PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN ADALAH
1. Knowledge
2. Ajaran
intrinsic
3. Kemampuan
berfikir kritis
4. Kemampuan
membuat keputusan klinis yang logis
PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG ETIS CIRI-CIRINYA
1. Mempunyai
pertimbangan yang benar atau slah
2. Sering
menyangkut pilihan yang sukar
3. Tidak mungkin
di elakkan
4. Dipengaruhi
oleh normal, situasi, iman, dan lingkungan sosial
TIPS PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KEADAAN KRITIS
1. Identifikasi
dan tegaskan apa maslahnya, baik oleh diri sendiri atau dengan orang lain
2. Tetapkan hasil
apa yang diinginkan
3. Uji kesesuaian
dari setiap solusi yang ada
4. Pilih solusi
yang lebih baik
5. Laksanakan
tindakan tanpa ada keterlambatan
PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIS
PENGERTIAN
Pengambilan keputusan klinis adalah keputusan yang
diambil berdasarkan kebutuhan dan masalah yang dihadapi klien sehingga semua
tindakan yang dilakukan bidan dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi klien
yang bersifat emergensi, antisifasi atau rutin.
PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIS TERGANTUNG:
1. Pengetahuan
2. Latihan
praktik
3. Pengalaman
PENGAMBILAN KEPUTUSAN KLINIS YANG BENAR DAN TEPAT
1. Menghindari
pekerjaan atau tindakan rutin yang tidak sesuai dengan kebutuhan klien
2. Meningkatkan
efektifitas dan efesiensi pelayanan yan diberikan
3. Membiasakan
bidan berfikir dan bertindak sesuai standart
4. Memberikan
kepuasan pelanggan
ADA DUA HAL DALAM KASUS EMERGENSI DALAM MENGHADAPI
SITUASI PANIK
1. Mempertimbangkan
suatu solusi berdasarkan pengalaman di masa lampau
2. Meninjau
simpanan pengetahuan yang relevan dengan keadaan tersebut
MENGHADAPI
MASLAH ETIK
MASALAH ETIK MORAL YANG MUNGKIN TERJADI DALAM
PRAKTIK KEBIDANAN
Pengertian masalah
Masalah adalah suatu kendala atau masalah yang harus
dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan
suatu yang diharapkan dengan baik agar tercapai tujuan dengan hasil yang
maksimal.
Etika merupakan bagian dari filosofi yang
berhubungan erat dengan nilai manusia dalam menghargai dalam suatu tindakan.
Sedangkan moral adalah mengenai apa yang dianggap baik atau buaruk dimasyarakat
dalam kurun waktu tertentu.
Langkah-langkah penyelesaian masalah
a. Melakukan
penyelidikan yang memadai
b. Menggunakan
sarana ilmiah dan keterangan para ahli
c. Memperluas
pandangan tentang situasi
d. Kepekaan
terhadap pekerjaan
e. Kepekaan
terhadap kebutuhan orang lain
Masalah etik moral yang mungkin terjadi dalam
praktik kebidanan
Tuntutan bahwa etik adalah hal penting dalam
kebidanan karena :
Bertanggung jawab terhadap keputusan
yang dibuat
Bertanggung jawab terhadap keputusan
yang diambil
a. Untuk
dapat menjalankan praktik kebidanan dengan baik dibutuhkan :
Pengetahauan klinik yang baik
Pengetahuan dan up to date
Memahami issu etik dalam pelayanan
kebidanan
b. Harapan bidan
dimasa depan
Bidan dikatakan profesional apabila
menerapkan etika dalam menjalankan praktik kebidanan
Dengan memahami peran bidan yang
merupakan tanggung jawab profesionalisme terhadap pasiaen atau klien akan
meningkat
Bidan berada pada posisi
baik aktik kebidanan
Cara menghadapi masalah etik
Bidan harus bersiap siap melakukan tindakan yang
benar dan memiliki kode etik agar terhindar dari permasalahan etik dalam
melaksanakan praktik pelayanan kebidanan adalah:
1. Informed
choice
2. Informed consent
Ada pun pengertian dari
a. Informed
choice
b. Informed
consent
A. Pengertian Informed
choice
Pengertian Informed Choice adalah
Pilihan yang didasari dengan pengetahuan yang cukup setelah mendapat
informasi yang lengkap . Informed choice adalah membuat pilihan setelah
menjelaskan pendapat setelah mendapatkan penjelasan tentang alternative asuhan
yang akan dialaminya. Informasi dalam konteks ini : informasi yang lengkap
sudah diberikan dan dipahami ibu, tentang pemahaman risiko, manfaat,
keuntungan, kemungkinan hasil dari tiap pilihannya.
B. Pengertian Informed consent
Pengertian Informed Consent adalah persetujuan yang diberikan
oleh klien atau keluarganya atas dasar informasi dan penjelasan
mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap klien tersebut.
Komentar
Posting Komentar